PURWOKERTO BARAT – Di tengah ancaman musim kemarau yang memicu kenaikan harga pangan dan kelangkaan air, lahan seluas 1.000 meter persegi di belakang Asrama Putra Harapan yang berlokasi di Gang Salak , Jalan KS. Tubun, Rejasari, Kecamatan Purwokerto Barat, Kabupaten Banyumas justru menjadi bukti nyata produktivikas pertanian skala kecil. Putra Harapan Farm (PH Farm) membuktikan bahwa swasembada pangan dapat dimulai dari langkah kecil yang konsisten—bahkan di saat tantangan iklim sedang berat.
Kemarau tahun ini menjadi ujian tersendiri. Pasokan air menyusut, pakan ternak kambing sulit didapat, dan harga bahan pangan di pasaran merangkak naik. Namun, pengelola PH Farm tak menyurutkan langkahnya. Setiap hari, mereka sibuk membuat pakan ayam, memberi makan kambing, dan merawat tanaman. “Kami tetap berusaha agar semua terawat. Ini bukan sekadar bertani, ini komitmen untuk menjaga ketersediaan pangan di lingkungan kami,” ujar salah satu pengelola, Rabu (26/8)
Beragam Tanaman Dan Pola Tanam Bergilir
Selama kurang lebih satu dekade terakhir, PH Farm dikelola dengan sistem pertanian terpadu. Lahan ini ditanami berbagai komoditas pangan dan buah-buahan seperti (:) kelengkeng, alpukat, singkong, ubi, waluh, pisang, pepaya, dan cabai. Jenis tanaman yang beragam memungkinkan PH Farm memanen secara bergilir sepanjang tahun—sebuah strategi penting untuk menjaga kestabilan pasokan pangan.
Budidaya dilakukan secara tradisional namun terukur. Tanah diolah dengan cangkul, bibit ditanam, dan pupuk kandang dari kotoran hewan ternak menjadi andalan untuk menjaga kesuburan. Penanaman massal dilakukan saat musim hujan, sementara musim kemarau difokuskan untuk perawatan intensif menjelang panen.
Hasil panen langsung dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dapur katering Putra Harapan. Dengan begitu, sebagian besar kebutuhan pangan warga asrama—mulai dari anak-anak hingga pengelola— tercukupi dari hasil kebun sendiri. Hal ini menjadi contoh nyata ketahanaan pangan berbasis komunitas.
Taman Edukasi untuk Generasi Penerus
PH Farm bukan sekadar kebun produksi. Lahan ini juga berfungsi sebagai taman edukasi bagi siswa PAUD, SD Terpadu, SMP, dan SMA Boarding School Putra Harapan Purwokerto. Kegiatan PH Farm diintegrasikan dalam pembelajaran sehingga siswa dapat belajar mengenal jenis tanaman, cara bercocok tanam, dan pentingnya memanfaatkan lahan yang tersedia.
Pak Soni, pengelola PH Farm, menegaskan bahwa misi pendidikan ini menjadi tulang punggung keberlanjutan pertanian sejak dini. “Harapan kami, generasi muda lebih mencintai pertanian dan bercocok tanam sebagai bagian dari upaya mewujudkan swasembada pangan,” katanya.
Swasembada dari Lingkungan Terdekat
PH Farm membuktikan bahwa kemandirian pangan tidak selalu membutuhkan lahan luas atau teknologi mahal. Dengan pemanfaatan lahan secara produktif, pengelolaan hasil pertanian secara berkelanjutan, dan keterlibatan generasi muda dalam proses belajar, PH Farm membuktikan bahwa langkah sederhana mampu memberi manfaat nyata bagi ketahanan pangan.
Semangat gotong royong yang tumbuh di PH Farm diharapkan menjadi inspirasi bagi masyarakat, tak hanya bagi anggota Pramuka yang menaungi asrama, tetapi juga bagi masyarakat. Dalam upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045, inisiatif seperti PH Farm menunjukkan bahwa kedaulatan pangan dimulai dari kepedulian, kerja nyata, dan keberlanjutan—di mana pun kita berada.
#lombaberitasingkat tetap menyertakan #festivalkehumasankendalisada26 #kwarcabbanyumas #ETK2026 #banyumasmeluETK
Pewarta: Zivana H. R.














