KARANGTALUN KIDUL– Belajar tidak hanya melalui media pembelajaran konvensional. Pada Selasa, 25 Agustus 2026, anggota Dewan Kerja Ranting (DKR) Purwojati bersama dua pembina terjun langsung ke ZIZI HIDROPONIK, Karangtalun Kidul, untuk melihat budidaya melon secara hidroponik. Lima anggota DKR mengikuti kegiatan tersebut untuk mempelajari proses budidaya sekaligus melihat potensi usaha pangan lokal dalam mendukung swasembada pangan.
ZIZI HIDROPONIK dipilih tidak lepas dari tema Hari Pramuka ke-65 menekankan dukungan terhadap swasembada pangan.
Kunjungan tersebut menjadi kesempatan DKR untuk belajar langsung dari salah satu pelaku usaha pertanian lokal, sekaligus melihat bagaimana budidaya ini bisa berkembang melalui teknologi hidroponik dalam greenhouse, hingga melihat potensi dibalik usaha pangan tersebut.
Pak Suratno disela-sela kesibukannya sebagai tenaga pengajar sekolah Di SDN Karangtalun Lor, pak Suratno juga sebagai menjalankan usaha ZIZI HIDROPONIK ditekuninya selama 3 tahun terakhir. Beliau belajar secara otodidak dengan mempelajari ilmunya lewat berbagai media daring, buku, berdiskusi dengan petani lain, hingga mengikuti diskusi komunitas, secara bertahap beliau mulai menguasai ilmu yang diperlukannya.
Di tahun pertamanya pak Suratno memulai dengan modal sekitar modal Rp3 juta. Dengan modal seadanya, beliau memberanikan diri untuk terjun dalam bidang ini. Pak Suratno membangun greenhouse pertamanya seorang diri berukuran 5×6 meter dengan niat awal untuk belajar, sambil mempelajari dan menerapkan ilmu yang ia telah dapat perlahan usahanya mulai berkembang. Seiring bertambahnya ilmu dan pengalaman, usahanya pak Suratno pun kini memiliki 3 greenhouse. Masih ingin memperluas jangkauan usahanya agar bisa terus berkembang sesuai dengan cita-citanya.
3 tahun berjalan, kini pak Suratno memiliki 3 greenhouse dua diantaranya menggunakan rangka bambu dan yang terbaru menggunakan rangka besi dengan nilai investasinya sekitar Rp100 juta. Menurut Pak Suratno, disetiap greenhouse memiliki 470 tanaman melon dengan 3 greenhouse, diperkirakan memiliki sekitar 1.410 tanaman.
Dalam satu greenhouse, Pak Suratno menanam beberapa varietas melon untuk menyesuaikan kebutuhan pasar. Varietas yang dibudidayakan di antaranya Inthanon, Dalmatian, Honey Globe, dan Golden Aroma. Menurut Pak Suratno, beberapa varietas tersebut memiliki peminat tersendiri di pasar, salah satunya Golden Aroma yang memiliki tekstur renyah dan paling diminati dipasaran.
Selama kunjungan, anggota DKR juga tidak hanya melihat tanaman melon, tetapi juga aktif bertanya, cara penyerbukan, bagaimana cara pemberian nutrisi, cara kontrol nutrisi dan pH, membedakan bunga jantan dan betina, hingga alasan ada daun yang dipotong. Pak Suratno kemudian menjelaskan dan memberikan contoh langsung misalnya dalam membedakan bunga betina ditandai dengan ciri khas bunganya lebih besar serta memiliki bakal buah, sedangkan bunga jantan berukuran lebih kecil.
Dalam satu masa tanam, biaya operasional yang dikeluarkan bisa mencapai Rp4 hingga Rp5 juta, dihitung mencakup dari bibit, nutrisi, sampai kebutuhan lainnya. Masa tanam bergantung pada varietas yang digunakan, dengan beberapa jenis dapat dipanen sekitar 60 hari, sementara jenis lainnya membutuhkan waktu lebih dari 70 hari. Dari satu greenhouse, keuntungan bersih yang diperoleh dapat mencapai Rp. 8 juta hingga Rp. 15 juta dalam satu masa tanam.
Namun, menurut Pak Suratno, keberhasilan usaha tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan produk. Sebelum menentukan varietas yang akan ditanam, pelaku usaha perlu memahami target pasar dan mengetahui jenis melon yang diminati masyarakat. Baginya, menghasilkan produk dalam jumlah banyak akan sia-sia apabila produk tersebut sulit dipasarkan.
“Kita bikin produk sepinter apapun, sebanyak apapun, kalo susah menjual buat apa?” kata Pak Suratno.
Selain belajar mengenai teknik budidaya hingga strategi penjualan, Pak Suratno juga berpesan pada generasi muda yang ingin memulai usaha apapun jangan tunggu semuanya terasa sempurna baru mau memulai. Menurutnya, kunci dalam usaha merupakan keberanian memulai juga harus disertai dengan kemauan belajar, sebagaimana dirinya yang mulai membudidayakan melon dengan belajar secara otodidak.
“Ambil langkah pertama, harus. Kalau nggak ambil langkah pertama nanti berkhayal terus, ngesuk lah, ngesuk lah, ngenteni modal cukup, ngenteni duit cukup, padahal tidak pernah bisa cukup” Ujar pak Suratno.
Kunjungan tersebut menjadi salah satu bentuk nyata Hari Pramuka yang ke-65 dapat diwujudkan melalui kegiatan kedekatan dengan persoalan pangan di lingkungan sekitar. Dengan melihat langsung proses budidaya dan pengelolaan usaha, anggota DKR tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai tanaman melon, tetapi juga memahami bahwa penguatan pangan membutuhkan pengetahuan, keberanian berusaha, dan kemampuan membaca kebutuhan masyarakat.
Bermula dari kemauan hingga dibangun greenhouse pertama dengan segala keterbatasan yang ada, ZIZI HIDROPONIK berkembang menjadi tiga greenhouse dalam kurun waktu 3 tahun. Perjalanan ZIZI HIDROPONIK dari sebuah greenhouse sederhana hingga berkembang menjadi tiga unit menjadi gambaran bahwa pengembangan usaha pangan dapat dimulai dari langkah kecil. Bagi generasi muda, pengalaman Pak Suratno menunjukkan bahwa keberanian memulai perlu berjalan bersama kemauan untuk terus belajar dan memahami kebutuhan pasar.
#lombaberitasingkat #festivalkehumasankendalisada26 #kwarcabbanyumas #ETK2026 #banyumasmeluETK
Pewarta : Muhamad Irham Ibnu Zakki















semangat… sukses selalu