Purwokerto – Sebuah tren baru mulai terasa di kota Purwokerto. Jika akhir-akhir ini anda melintasi jalanan di Purwokerto, mungkin akan lebih mudah menemukan penjual makanan rebusan yang ramai dikunjungi. Mulai dari jagung rebus, kacang, edamame, ubi jalar, singkong, hingga talas, perlahan-lahan kembali mengisi piring warga sebagai menu sarapan pengganti nasi. Fenomena ini beriringan dengan viralnya umbi kimpul di media sosial, yang dipopulerkan oleh akun TikTok @black.sheep8208 dengan jargon ikoniknya, “Saya ganti jadi kimpul” .
Apa yang terjadi di Banyumas, khususnya di Purwokerto ini bukan sekadar mengikuti tren. Di kabupaten yang menyandang status sebagai lumbung pangan utama Jawa Tengah ini, minat terhadap pangan lokal berbasis umbi-umbian tampaknya mulai bangkit kembali . Masyarakat mulai beralih ke alternatif karbohidrat yang lebih beragam, yang dinilai praktis dan menyehatkan . “Setiap hari jualan rebusan seperti ini selalu habis, banyak ibu-ibu yang beli setiap hari. Saya mulai jualan dari pukul 06.00 WIB dan habis sekitar pukul 09.00 WIB. Harga juga murah hanya Rp.2000 saja,” ujar Pak Toni, seorang penjual rebusan di Kober (26/8), menggambarkan menu sederhana yang kini kembali digandrungi. Selain murah juga banyak jenis aneka umbi rebus yang dijajakan, menandakan pergeseran kecil namun signifikan dalam pola konsumsi masyarakat.
Kimpul: Dari Sosmed ke Piring Makan
Fenomena ini tidak lepas dari peran akun TikTok @Black Sheep yang secara konsisten mengolah kimpul menjadi berbagai hidangan modern seperti mashed potato ala kimpul, lasagna, hingga kimbap . Kreator di balik akun tersebut tergerak untuk melestarikan pangan lokal yang mulai terlupakan, terutama di kalangan generasi muda .
Kimpul sendiri, atau yang dikenal juga sebagai uwi atau mbote, memiliki kandungan gizi yang tak kalah dari nasi. Berdasarkan data dari Kementerian Pertanian, dalam 100 gram kimpul terkandung 28,66% karbohidrat, serat pangan tinggi, dan rendah lemak . Bahkan, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin turut mengajak masyarakat mengonsumsi kimpul karena indeks glikemiknya yang lebih rendah, sehingga aman bagi penderita diabetes dan membuat kenyang lebih lama .
Di Purwokerto sendiri mulai bermunculan toko kue yang menyediakan menu kimpul sebagai bahan alternatif untuk membuat menu mereka. Bahkan menu yang disediakan pun bervariasi. Seperti yang diinformasikan oleh akun Instagram @purwokerto_mangan bahwa serbuan kimpul sudah sampai di Purwokerto, menu kimpul snowcake dan kimpul cheesecake menjadi menu baru di salah satu toko kue di Purwokerto. Hal ini menandakan bahwa bahan pangan lokal bisa menghasilkan menu yang mendunia.
Ironi Banyumas: Lumbung Pangan, Kimpul Mulai Langka
Namun, terdapat ironi yang menarik di balik geliat ini. Di Banyumas yang subur dan menjadi lumbung pangan, umbi kimpul justru mulai jarang ditemui. ” Akhir-akhir ini kimpul sedang kosong, pekan lalu ada tapi ini tidak ada lagi. Karena musim kemarau mungkin jadinya langka, bahkan singkong/budin juga susah” ujar Bu Mukminah pedagang di Pasar Cerme Purwokerto.
Kembali populernya makanan rebusan dan hebohnya kimpul di dunia maya adalah angin segar. Ini mungkin bukan sekadar tren sesaat, tetapi awal dari kesadaran kolektif untuk mendiversifikasi pangan dan kembali menghargai kekayaan lokal yang selama ini terabaikan. Bagi warga Banyumas, ini adalah momentum untuk membuktikan bahwa menjadi lumbung pangan tidak hanya soal menghasilkan beras, tetapi juga melestarikan dan mengonsumsi kekayaan pangannya sendiri.
#lombaberita #festivalkehumasankendalisada26 #kwarcabbanyumas #estafettunaskelapa2026 #ETK2026 #banyumasmelueETK
Pewarta: Fitri Setya














